HASIL
OBSERVASI TENTANG KEBERADAAN DESA MANTINGAN DI KECAMATAN TAHUNAN KABUPATEN
JEPARA JAWA TENGAH
Dibuat Untuk
Memnuhi Tugas Mata Kuliah Kewarganegaraan
Dosen pengampu :
Bpk. Wahidullah,S.H.I, M.H
Disusun Oleh,
Nama : M. Azkal Azkiya
NIM : 181310003973
Mahasiswa Pendidikan Agama
Islam Semester 1 Di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam
Nahdlatul Ulama’ (UNISNU) Jepara, Jawa Tengah Tahun 2018
Hasil Observasi Tentang Keberadaan Desa Mantingan Di
Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara Jawa Tengah
Mantingan
|
Desa
|
Negara Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Jepara
Kecamatan Tahunan
|
Kodepos 59421
|
Luas 2,85 km²
Jumlah Penduduk 11,479 jiwa
Kepadatan jiwa/km²
|
Sejarah Desa
Mantigan
Mantingan adalah desa di kecamatan
Tahunan, Jepara, Jawa Tengah, Indonesia. Desa ini adalah asal mula ukiran
Jepara yang sangat terkenal itu berasal dan kegiatan seni ukir beserta
industrinya menjadi mayoritas mata pencarian penduduk daerah ini. Di desa ini
terdapat Masjid Mantingan yang menyandang tanggal 1481 Tahun Jawa atau
1559-1560 Masehi.
Relief di Masjid Mantingan (foto diambil pada tahun 1930) Di area masjid itu
juga terdapat makam-makam kuno yang memiliki angka tahun. Di nisan makam
tersebut terdapat lambang kerajaan Majapahit yang disebut sinar majapahit
(Bentuknya seperti lambang organisasi Islam Muhammadiyah saat ini).
Masjid Mantingan dipugar tanpa mempertimbangkan kaidah
pemugaraan bangunan cagar budaya. Mantingan ini banyak disebutkan dalam naskah
sejarah kerajaan Mataram Islam, tentang keberadaan tempat ini.
Di desa Mantingan tidak hanya untuk tempat ziarah para
masyrakat saja tapi sebagai salah satu
tempat pariwisata juga, seperti peninggalan sebuah masjid yang bernama Masjid
Astana Sultan Hadlirin
sebelum memasuki area masjid juga terdapat sebuah Gapura yang biasa di sebut
Gapura Keagungan serta terdapat makam-makam yang sampai sekarang masih di
segani atau di kunjungi oleh masyarakat mantingan atau dari luar desa
mantiangan yaitu Makam Sultan Hadlirin, Makam Ratu kalinyamat dan terakhir
Makam Pangeran Arya Jepara.
Kondisi Geografis
Letak wilayah
Berdasarka letak wilayah desa Mantingan berada disebelah selatan Ibu kota
kab. Jepara. Desa Mantingan merupakan salah satu desa di kec. Tahunan, dengan
jarak tempuh ke ibu kota 3 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan kurang lebih
10 menit, Luas desa mantingan 2,85 km².
Secara
administratif desa mantingan terdiri dari 29 RT, dan 9 RW, meliputi 6 dukuh,
yaitu
1.
Dukuh Taraman meliputi RT : 1, 2, 3, 29.
2.
Dukuh Jepaten meliputi RT : 5,
6, 7, 8, 10.
3.
Dukuh Gedongdong meliputi RT : 9, 11 ,14, 15.
4.
Dukuh Dukoh meliputi RT : 12, 13, 16, 17, 18, 19, 20.
5.
Dukuh Sendang meliputi RT : 26, 27, 28.
6.
Dukuh Ngebong meliputi RT : 21, 22, 23, 24, 25.
Demografi
Berdasarkan
data administrasi desa, Jumlah penduduk yang tercatat secara administrasi untuk
tahun 2015 berjumlah 10.606 jiwa, untuk tahun 2016 meningkat menjadi 10.722
jiwa, untuk tahun 2017 meningkat menjadi 10.838 jiwa, dan untuk tahun 2018
meningkat kembali menjadi 11.479 jiwa. Secara rinci dapat dilihat dari tabel 1 dibawah
ini
Tabel 1
perkembangan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin desa Mantingan tahun
2015 – 2018
No
|
Jenis
Kelamin
|
Tahun
2015
|
Tahun
2016
|
Tahun
2017
|
Tahun
2018
|
1
|
Laki-laki
|
5.460 Jiwa
|
5.513 Jiwa
|
5.571 Jiwa
|
5.906 Jiwa
|
2
|
Perempuan
|
5.146 Jiwa
|
5.269 Jiwa
|
5.267 Jiwa
|
5.573 Jiwa
|
3
|
Jumlah
|
10.606 Jiwa
|
10.722 Jiwa
|
10.838 Jiwa
|
11.479 Jiwa
|
Pemerintahan Umum
Berikut adalah daftar nama orang yang pernah menjabat kepala Desa/Petinggi
Desa Mantingan.
No
|
Nama
|
1.
|
Mbah Dal
|
2.
|
Bpk. Suwikyo
|
3.
|
Bpk. Sirka
|
4.
|
Bpk. Ahmad Slamet
|
5.
|
Bpk. Amar
Shodik
|
Petilasan
1. Masjid Mantingan yang terletak di dukuh Taraman Rt 03/01
Masjid Mantingan
merupakan masjid kedua setelah Masjid Agung Demak, yang dibangun pada tahun
1481 Saka atau tahun 1559 Masehi berdasarkan candrasengkala
yang terukir pada mihrab Masjid Mantingan berbunyi “Rupa Brahmana Warna Sari”.
Pembangunan masjid ini berkait dengan anak R. Muhayat Syeh, sultan Aceh, yang
bernama R. Toyib. Pada awalnya R. Toyib yang dilahirkan di Aceh ini menimba
ilmu ke Tanah Suci dan Negeri Cina (Campa) untuk dakwah Islamiyah. Ia pergi ke
Jawa (Jepara) dan menikah dengan Ratu
Kalinyamat (Retno Kencono). Ratu ini adalah putri Sultan
Trenggono, sultan Kerajaan Demak. Akhirnya dia mendapat gelar Sultan
Hadlirin dan sekaligus dinobatkan sebagai adipati Jepara hingga wafat. Masjid ini merupakan salah satu
pusat aktivitas penyebaran agama Islam di pesisir utara Pulau Jawa dan merupakan
masjid kedua setelah masjid Agung Demak. Konon, pengawas pekerjaan pembangunan
masjid ini adalah Babah Liem Mo Han. Masjid Mantingan sebagai salah satu konsep
Masjid-Makam-Keraton, karena disanalah disemayamkan Sultan Hadlirin, pada tahun
1559 dengan sengkala Rupa Brahmana Warna Sari. Di Masjid Mantinganini
kebudayaan di kembangkan pada ornament-ornamen yang digunakan berupaukiran
dengan motif suluran flora dan fauna yang disamarkan. Tipologi bangunan dengan
konsep perpaduan Islam-Hindu terlihat jelas pada bentuk bangunan serta gapura
yang berbentuk lengkung. Di dekat Masjid mantingan tersebut
di dalamnya terdapat petilasan sebuah candi hindu yang sudah hilang.
di dalamnya terdapat petilasan sebuah candi hindu yang sudah hilang.
2. Makam Ratu kalinyamat yang terletak di dukuh Taraman Rt
03/01
Makam Ratu Kalinyamat Mantingan Jepara, di dalam cungkup besar bersama makam suaminya, yaitu Pangeran Hadlirin, serta sejumlah kerabat. Kompleks makam di belakang Masjid Astana Sultan Hadlirin itu cukup luas, dan di luar tembok ada kompleks pemakaman umum. Jalan dari halaman masjid ke gerbang makam agak melengkung, dan di kiri terlihat akses masuk dari selatan dengan melewati gapura bertulis syahadat yang dipindahkan dari jalan raya. Area di dalam kompleks masjid dan Makam Ratu Kalinyamat Mantingan Jepara kondisinya terlihat baik.
Kebijakan anggaran tahun 2018
Anggaran Pendapatan Desa
Mantingan
|
|||||
No
|
Pendapatan
|
Nominal
|
Prosentase
|
Tahun
|
|
1.
|
PAD
|
Rp. 70.400.000
|
2.9%
|
2018
|
|
2.
|
DD
|
Rp.
1.192.261.000
|
49.0%
|
||
3.
|
BHPR
|
Rp. 62.392.000
|
2.6%
|
||
4.
|
ADD
|
Rp.
599.437.000
|
24.6
|
||
5.
|
Bansus Kab
|
Rp. 450.000.000
|
18.5%
|
||
6.
|
Banprov
|
Rp.
55.000.000
|
2.3%
|
||
7.
|
Pend. Lain-lain
|
Rp. 4.800.000
|
0.2%
|
||
Jumlah Total
|
Rp. 2.434.290.000
|
||||
Anggaran Belanja Desa Mantingan
|
|||||
No
|
Belanja
|
Nominal
|
Prosentase
|
Tahun
|
|
1.
|
Pemerintahan Desa
|
Rp. 611.421.900
|
25.1%
|
2018
|
|
2.
|
Pembinaan
Kemasyarakatan
|
Rp.
51.510.000
|
2.1%
|
||
3.
|
Pembangunan Desa
|
Rp. 1.555.647.000
|
63.8%
|
||
4.
|
Pemberdayaan Masyarakat
|
Rp.
219.311.000
|
9.0%
|
||
Jumlah Total
|
Rp. 2.437.889.000
|
||||
Total Defisit Pendapatan Dengan Belanja
|
Rp. 3.599.000
|
||||
Berikut ini
merupakan pelaksanaan pembangunan dan semua kegiatan dalam rangka untuk
kesejahteraan rakyat Desa Mantingan
PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DESA
MANTINGAN
|
||
No
|
Nama Kegiatan
|
Tahun
|
1.
|
Pembangunan Gedung Olahraga Desa Mantingan
|
2018
|
2.
|
Pembangunan
Talut Irigasi Lampehan
|
|
3.
|
Pembangunan Jalan Rabat Beton
|
|
4.
|
Pembangunan Jalan Rabat Beton
|
|
5.
|
Pembangunan Talut Irigasi Taraman
|
|
6.
|
Pembangunan Rabat Beton Jalan
|
|
7.
|
Pembangunan Jalan Rabat Beton
|
|
8.
|
Pembangunan Talut Jalan
|
|
9.
|
Pembangunan Jalan Rabat Beton
|
|
10.
|
Pembangunan Jalan Rabat Beton
|
|
11.
|
Pembangunan Jalan Rabat Beton
|
|
12.
|
Pembangunan Jalan Rabat Beton
|
|
13.
|
Pembangunan Jalan Rabat Beton
|
|
14.
|
Pengaspalan Jalan
|
|
15.
|
Pengaspalan Jalan
|
|
16.
|
Pembangunan Jalan Rabat Beton
|
|
17.
|
Pengaspalan Jalan
|
|
18.
|
Pengaspalan Jalan
|
|
19.
|
Pembangunan Jalan Rabat Beton
|
|
20.
|
Pemasangan Talut Jalan
|
|
21.
|
Pembangunan Jalan Rabat Beton
|
|
22.
|
Pembangunan Drainase
|
|
23.
|
Pembangunan Sumur Pantek
|
|
24.
|
Pembangunan Kantor Balaidesa
|
|
25.
|
Menunjang Kegiatan RTLH (3 Unit)
|
|
26.
|
Menunjang Kegiatan Jambanisasi
|
|
27.
|
Pembangunan Jalan Rabat Beton
|
|
28.
|
Pengaspalan Jalan
|
|
29.
|
Pembangunan Jalan Rabat Beton
|
|
30.
|
Normalisasi Dan Pembersihan Sungai
|
|
Menurut bapak petinggi, ketika
ditanya tentang apakah dana APBdesa sudah memenuhi keadilan desa atau belum? Beliau
menjawab, “adil dan tidaknya itu yang merasakan rakyat sendiri, kalau saya sudah berusaha semaksimal
mungkin agar bisa menjadi adil di dalam pemerintahan desa, baik pembangunan
material, maupun pemberdayaan mental masyarakat sini”.
Jadi
dapat saya simpulkan bahwa keadilan itu diperoleh dari perasaan rakyat yang
menikmati keadaan yang sudah dibangun dalam desa tersebut, dan saya rasa
masyarakat di daerah desa pekalongan mengatakan sudah memenuhi keadilan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar